Minggu, 27 September 2009

Pemahaman Perilaku Individu


KEPRIBADIAN
Ada beberapa definisi Kepribadian berdasarkan beberapa pakar:
Gordon Willard Allport (1897-1967)

GW. Allport; Kondisi psikofisik yang dinamis dalam individu, yang menentukan tingkah laku yang khas.
Raymond Cattell
Raymond Bernard Cattell (20 March 1905–2 February 1998), mendefinisikan kepribadian - Apa yang akan dilakukan seseorang dalam situasi tertentu.
David A. Adler
David Abraham Adler (born April 10, 1947), kepribadian adalah cara khas individu dalam merespon masalah hidup.
J.P. Chaplin, kepribadian adalah Integrasi sifat-sifat tertentu untuk menyatakan kualitas yang unik dari individu.
  • Pada pekerjaan-pekerjaan tertentu sifat-sifat kepribadian sesorang sangat berhubungan dengankesuksesan dalam bekerja.
  • Pengukuran kepribadian dalam bimbingan jabatan karyawan berguna bagi maksud-maksud sebagai berikut;
  1. Bagi mereka yang penyesuaian kepribadiannya tidak baik, mungkin akan mengalami kesukaran penyesuaian diri dalam training ataupun dalam situasi kerja.
  2. Bagi mereka yang mepunyai sifat-sifat kepribadian tertentu yang mengganggu penyesuaian diri dengan posisi kerja bisa dilakukan usaha-usaha yaitu penempatan yang sesuai dengan kepribadiannya, diberi psikoterapi untuk penyesuaiannya.
Prinsip-prinsip Hukum Tingkah laku Manusia
Prinsip Hukum Tingkah laku Individu,
  1. Tinggkah laku manusia timbul karena adanya stimulus.
  2. Tidak ada tingkah laku yang terjadi tanpa stimulus.
  3. Stimulus merupakan sebab terjadinya tingkah laku.
  4. Makin besar stimulus makin besar kemampuannya untuk menggerakkan tingkah laku.
Stimulus diartikan sebagai rangsangan dari luar. Pada kamus bahasa indonesia stimulus diartikan “Perangsang organisme bagia tubuh atau reseptor lain untuk menjadi aktif”
Pendapat lain tentang Tingkah laku manusia:
  • Apa yang dapat dicapai dan yang tak dapat dicapai oleh suatu perbuatan membentuk suatu pengalaman.
  • Pengalaman yang pahit dari kegagalan mempunyai kecenderungan untuk dihindari, sedangkan pengalaman menyenangkan cenderung untuk dipertahankan.
  • Kegagalan dan sukses akan membentuk pola perbuatan yang dijadikan dasar untukdipertahankanbagiperbuatan berikutnya.
Pendekatan yang dapat dilakukan dalam usaha mengubah tingkh laku manusia;
  1. Pendekatan secara mentalistik, yaitu pendekatan yang dilakukan dengan cara mengubah mentalnya, misalnya kita merubah tingkah laku seseorang yang menyimpang dengan cara ramah tamah atau secara tidak langsung.
    Cara ini tidak terlalu mudah pada pelaksanaannya. Ada sebuah contoh yang sering terjadi pada keluarga di Indonesia, mengenai prilaku orang tua terhadap anak bungsu atau anak terbesar. Sering terjadi bahwa orang tua di Indonesia memiliki sifat cenderung melindungi anak terbesar atau bungsu. prilaku seperti ini membawa dampak yang besar pada si “anak” jika sudah dewasa kelak. Terkadang prilaku ana pada posisi seperti ini cenderung egois atau tidak mau terkalahkan. Yang jadi pertanyaan “apakah sifat ini baik?” baik jika pada kondisi tertentu. Tetapi akan mengalami sebuah ganjalan jika anak tersebut masuk dalam sebuah tim kerja, terutama pada tim di sebuah lintasan produksi.
    Mental ini yang harus di rubah jika memang egois menjadi sebuah ganjalan pada proses produksi, ketidak cocokan personil dalam sebuah tim proses produksi akan memperlambat proses kerja terutama jika proses tersebut memiliki waktu baku yang harus tepat sesuai jadwal produksi.
  2. Pendekatan secara empiris (kondisional), yaitu pendekatan yang dilakukan dengan cara merubah stimulusnya (misal: alat perlengkapan kerja, teman sejawat, mesin-mesin, dan sebagainya).
    Dalam sebuah proses manufaktur terutama yang berkaitan dengan perancangan sistem kerja, tools dalam sebuah stasiun kerja sebaiknya disesuaikan dengan operator yang menggunakan. Ada sebuah contoh yang sering terjadi di beberapa pabrik Indonesia. Kendala teknologi, memaksa agar industri Indonesia harus menimpor peralatan dari luar negeri yang kondisi mesinnya tidak sesuai dengan kontur manusia Indonesia. Hal ini akan berdampak terciptanya prilaku yang cepat frustasi, lelah, dan enggan untuk bekerja. Prilaku ini tentunya akan berpengaruh terhadap waktu kerja dan output yang dihasilkan. Jika prilaku ini tidak cepat teratasi maka laju turnover pada divisi yang ada di dalamnya akan tinggi. Solusinya bagaimana, rubah sistem kerja sesuai dengan konsisi operator, dalam materi ergonomi - perancangan sistem kerja ada keksuaian alat dan operator (sistem manusia dan mesin).
Bahan analisis:
Bagaimana KEPRIBADIAN dan Tingkah laku Manusia memiliki kertekaitan dengan Hawthorne effect.

Sumber :
Boy Macklin Pareira
27 September 2008

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar